|
Riwayat Rebopungkasan di Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta ini tidak lepas dari sejarah berdirinya Wonokromo. Wonokromo berdiri pada tahun 1755 M, didirikan oleh Kyai Haji Muhammad Fakih, alias Kyai Welid, alias Kyai Sedo Laut.
Kyai Muhammad Fakih diangkat sebagai penghulu Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat oleh Sultan Hamengkubuwono I. Kemudian diberi tanah ”perdikan” yang masih berupa hutan awar-awar, kurang lebih 12 km di sebelah selatan kota Yogyakarta. Atas rasa syukurdengan anugrah ini, kemudian oleh Kyai Muhammad Fakih didirikan sebuah masjid yang sangat
sederhana. Bangunannya terdiri dari dinding gedhek, dengan atap welit, dan mustoko dari kuwali. Pada saat peresmian masjid ini, Sultan Hamengkubuwono I berkenen hadir dan memberi nama tempat ini dengan Waanna karoma, yang artinyasupaya benar-benar mulia (penduduknya). Lidah jawa kemudian menyebutnya Wonokromo. Kyai Muhammad Fakih adalah seorang yang sangat alim dan seorang yang sangat sholeh. Kyai Muhammad Fakih menguasai berbagai ilmu agama Islam. Menguasai Al-Qur’an, menguasai tafsir Al-Qur’an, menguasai hadist dan ilmu hadist. Menguasai fikih dan ilmu fikih. Menguasai ilmu alat, ilmu nahwu dan shorof. Yang lebih penting, Kyai Muhammad Fakih menguasai ilmu tasawuf dan ilmu hikmah. Setiap malam hari dan merupakan kegiatan rutin sehabis sholat Isya, Kyai Muhammad Fakih mengajar ngaji berbagai disiplin ilmu di masjid sampai jam dua belas malam. Sesudah itu Kyai Muhammad Fakih bersama dua orang sahabatnya yaitu Kyai Pet dari kotagedhe, Yogyakarta dan Kyai Sokopuro dari Blawong, Jetis, Bantul meneruskan mengaji tasawuf, terutama mengaji ilmu hikmah. Kalau diartikan dalam bahasa jawa, ilmu hikmah diartikan olah kasantikan dan tempatnya pindah dari masjid ke Tempuran. Tempuran adalah tempat pertemuan antara Kali Opak dan Kali Gajah Uwong yang letaknya 200 meter arah timur masjid Wonokromo. Banyak orang yang ke Kyai Muhammad Fakih untuk minta berkah untuk mendapatkan solusi dari berbagai permasalahan orang hidup. Sudah menjadi kebiasaan, Kyai Muhammad Fakih dalam memberikan berkah dengan memberikan air. Biasanya air yang sudah diberi do’a oleh Kyai Muhammad Fakih, air itu bias diminum oleh peminta berkah atau untuk mandi. Semakin hari semakin banyak orang yang datang kepada Kyai Muhammad Fakih, untuk mempermudah maka Kyai Muhammad Fakih memutuskan untuk memberi do’a air tempuran, sehingga orang yang datang meminta berkah kepadanya, tinggal mengambil air tempuran atau mandi disana. Pada saat itu air tempuran masih sangat bening, steril dan belum tercemar, sehingga orang-orang datang langsung ditempuran. Inilah barangkali tempuran banyak dikunjungi orang, lebih-lebih pada saat Rebopungkasan, yaitu hari Rabu di akhir bulan Syafar, untuk mengambil air atau mandi agar mendapatkan berkah.
Kyai Muhammad Fakih menemukan Peti Disebutkan di muka, bahwa setiap malam setelah sholat Isya’ Kyai Muhammad Fakih mengajar ngaji di masjid sampai jam dua belas malam. Setelah itu Kyai Muhammad Fakih pindah ke tempuran untuk mengaji tasawuf dan ilmu hikmah kemudian mempraktekkan dari ilmu hikmah itu, yang dalam bahasa jawa di sebut oleh kasantikan, yang diikuti oleh kedua orang sahabatnya, yaitu Kyai Pet dari Kotagede Yogyakarta dan Kyai Sokopuro dari Blawong, jetis. Sudah menjadi agenda rutin tiap-tiap malam Rabu, Kyai Muhammad Fakih beserta dua orang sahabatnya itu melakukan ritual yang disebut riyadloh, kalau orang jawa menyebut riyalat. Mereka bertiga menyusuri Kali Opak sampai laut selatan dengan naik rakit yang dibuat dari batang pisang (debok). Secara kebetulan, pada malam Rabu di akhir bulan Shafar, sesampainya dimuara sungai laut selatan (sowangan), Kyai Muhammad Fakih menemukan sebuah peti. Peti kemudian dibuka, ternyata isinya paket kekayaan, paket kekuatan fisik (karosan) dan paket ilmu agama Islam. Kyai Muhammad Fakih kemudian menawarkan kepada dua orang sahabatnya untuk memilih paket yang mana untuk diambil dari ketiga paket itu. Kemudian Kyai Pet dari Kotagede Yogyakarta memilih paket kekayaan, maka tidak pelak lagi bahwa orang Kotagede rata-rata menjadi orang kaya (menjadi juragan), sedangkan Kyai Sokopuro dari Blawong memilih paket karosan, tak pelak lagi orang-orang Blawong rata-rata menjadi orang yang kuat (roso), mereka banyak yang berprofesi mencari batu gunung untuk dibuat cengkurah. Cengkurah adalah dinding sumur, tidak di sangsikan lagi banyak orang Blawong yang berprofesi sebagai tukang membuat sumur. Semakin lama batu gunung menjadi habis, maka cengkurah itu diganti dengan bis beton. Tinggal paket terakhir, paket ilmu agama Islam yang mau tidak mau menjadi pilihan Kyai Muhammad Fakih. Tak pelak lagi di Wonokromo banyak orang-orang yang ahli agama Islam atau dikenal sebagai banyak Kyai.
Ritual Rebopungkasan di Wonokromo Dahulu, setiap menjelang hari Rabu di akhir bulan Syafar (Rabupungkasan), yaitu pada hari selasa sore setelah sholat ashar, para Kyai di mushola masing-masing mengadakan upacara majlis do’a tolak bala, dimulai dengan membaca Al Fatihah, istighfar, membaca sholawat nabi, mebaca tahlil dan wirid khusus tolak bala dan diakhiri dengan do’a. Setelah acara ini kemudian minum dan makan makanan khas berupa lemper. Selesai acara kemudian dibagi nasi berkatan. Ritual semacam itu selalu dikerjaka oleh para Kyai dan para penduduk desa Wonokromo.
Arti Kue Lemper Oleh para Kyai kue lemper sengaja disajikan pada saat ritual Rabupungkasan seperti disebutkan diatas, karena kue lemper itu mengandung nilai dan arti simbolik. Makanan orang hidup sebenarnya ada dua macam yaitu makanan untuk kebutuhan jasmani dan makanan untuk memenuhu kebutuhan rohani. Dalam kue lemper itu terdiri dari kulit, ketan dan daging cincang. Orang akan mendapatkan kebutuhan hidup harus membersihkan segala yang tidak baik atau tidak enak. Ibarat dalam kue lemper orang akan dapat menikmati lezatnya kue lemper harus membuang kulit lemper yang dibuat dari daun pisang itu. Kemudian orang akan dapat merasakan enaknya ketan. Ibarat orang yang mendapat kebahagiaan harus membuang yang tidak baik (diibaratkan kulit lemper dari daun pisang), kemudian dia akan merasakan enaknya hidup dengan menjalankan Syare’at Islam (Ibarat ketan) dan kebahagiaan itu akan sempurna bila (ibarat daging cincang yang ada di tengah-tengah ketan, ditengah-tengah kue lemper). Kue lemper dimasak dua kali. Hal ini melambangkan bahwa manusia akan mengalami “kematangan” ibadah kepada Allah SWT harus mengalami dua proses, yaitu Syare’at dan Hakekat.
Upacara Rebopungkasan dipindah di lapangan Wonokromo Karena semakinhari semakun banyak orang yang datangdi Tempuran pada setiap acara Rebopungkasan dan dirasa lebih banyak madhorot dari pada manfaatnya, bahkan cenderung untuk menumbuh suburkan kemusrikan maka upacara Rebopungkasan di pindah di lapangan Wonokromo oleh Bapak Lurah Haji Muhammad Irsyad pada tahun 1950 M. alasan yang paling utama adalah Tempuran itu sangat dekat dengan Masjid.
Upacara “Ngarak Lemper” Upacara Ngarak Lemper adalah inisiatif dari Karang Taruna Desa Wonokromo yang mana lemper merupakan makanan khas yang disajikan di setiap Majelis Do’a di desa Wonokromo, dimana lemper memiliki arti Filosofis yang dalam. Untuk itu Karang Taruna Desa Wonokromo menjadikan sebuah Ikon Rebopungkasan sehingga dibuatlah Lemper Raksasa yang telah di akui oleh pemerintah sebagai salah satu aset wisata budaya. Dimana acara “Ngarak Lemper” dilaksanakan pada malam rabu terakhir di bulan Syafar atau yang lebih dikenal dengan Rebopungkasan, dimulai dari Masjid Taqwa Wonokromo ke Balai Desa Wonokromo, yang selanjutnya acara tersebut di pindah ke Masjid Al-Huda Karanganom. Upacara Ngarak Lemper tersebut diawali dengan berkumpulnya Bergodo Prajurit Kraton Ngayogyokarto dan peserta kirap lainnya di Masjid Karanganom untuk melakukan ritual Do’a bersama untuk keselamatan dan sebagai tanda di mulainya kirab lemper “Boga Wiwaha” dan gunungan menuju halaman Balai Desa Wonokromo untuk dibagikan kepada masyarakat.
|